Tuesday, December 19, 2006

Pelukan Kerinduan

Nun jauh di ufuk cakrawala...
Pelangi tak lagi memberi warna
Ia melengkum hitam dalam guratan masa yang kelam
Dada langit... berkedipan dihiasi seribu bintang...
Rembulan pucat mengintai di balik gumpalan awan

Di titian usang seorang insan bersimpuh lesu
Sepucat rembulan nan bersinar
Sesejuk hembusan sang bayu di pesisir lautan
Desiran ombak bertalu-talu memecah kesunyian
Namun iramanya tak mampu mengobati kesepian hati Luka
seribu rindu mengiris tangkai jantung
Mencincang lumat segala impian penuh harapan
Impian tuk menerima dan memberi kebahagiaan

Kini .., baru kusadari sebuah kepincangan hati...
Justru ketika ku belajar berdiri... merangkak....
dan ingin berlari Langkah terseok - seok dengan kaki terkunci...
Tangan meraba - raba mencari sehelai tongkat suci ....
yang mau...rela...dan ikhlas menjadi penyangga diri

Aku.....
Layaknya burung pipit yang ditinggalkan induk...
Mencicit...mencicit dan mencicit...

Aku....
Layaknya pepohonan tanpa akar ...
...yang mudah rubuh di terpang angin....
...mudah bengkok digoyang tangan...
...hanya berharap dan berharap...
Ada tangan yang sudi menuntun di tengah temaram malam yang mencekam

Aku di sini hanya bisa berusaha...
Tuk bercanda membujuk jiwa yang terlena
Tuk meneguk setetes air penawar derita
Mungkinkah ku peroleh sebuah kesempatan...walau sesaat...?

Sesungguhnya kenyataan bukan impian
Sesungguhnya kenyataan selalu sarat dengan pelajaran ...
kalau kita bisa mengambil hikmah dibalik setiap kenyataan

Namun siapalah yang dapat merayu hati
... meski itu.., hati kita sendiri
Melempar rindu ke dasar lautan
Lantaran rindu datang tanpa di undang
Cinta berputik tapi kembangnya terhalang

Tolonglah...
Jangan definisikan bahasa rindu...
...dengan kaku dan tafsir yang terbatas
Insan hanya bisa mendendangkan gurindamnya Insan hanya bisa menyebut kalimatnya Biarpun bertemu setiap hari...
... namun dalam rindu masih ada lagi sebuah rindu
Di celah kerinduan itu terselip sejuta rasa
Rasa yang hanya dimengertikan oleh seorang perindu jua

Biarkan insan itu menunggu di situ
Sebagai simbol kesetiaan dalam cinta
Biarlah rindu terus bertandang di jiwanya
Karena dia harus belajar tuk hidup dengan kerinduannya
Dia harus belajar tuk mati membawa kerinduannya jua


"dari kiriman seseorang yang tak kukenal bernama Dede Farhan Aulawi... ke email ku pagi ini"

0 Comments:

Post a Comment

<< Home